Jumat, 25 Desember 2015

Media Equation Theory

Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass (professor jurusan komunikasi Universitas Stanford Amerika) yang mana teori ini masih relatif sangat baru dalam dunia komunikasi massa.

Media Equation Theory atau teori persamaan media ini ingin menjawab persoalan mengapa orang-orang secara tidak sadar dan bahkan secara otomatis merespon apa yang dikomunikasikan media seolah-olah (media itu) manusia? Dengan demikian, menurut asumsi teori ini, media diibaratkan seperti manusia. Teori ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face. 
Ketika manusia mendengarkan radio dengan volume kecil, maka ia akan mendekat ke arah radio tersebut. Hal ini sama seperti ketika manusia itu berinteraksi dengan manusia yang lain. Ketika lawan bicaranya berbicara dengan pelan dan kecil, maka secara otomatis kita akan mendekat supaya bisa mendengar apa yang mereka sampaikan.
Media diberlakukan sebagai aktor sosial. Artinya, aturan yang mempengaruhi perilaku setiap hari individu-individu dalam interaksi dengan orang lain relatif sama seperti ketika orang-orang berinteraksi dengan media. Kalau orang berinteraksi dengan memakai aturan tertentu, mediajuga punya aturan tertentu juga seperti dalam situasi lingkungan sosial.

Media Equation Theory, pesan yang disampaikan cukup ambigu. Televisi jelas tidak mempunyai mulut untuk berbicara, namun bisa menyuarakan audio dari program yang ditayangkannya. Jika memandang televisi itu sebagai medium, secara jelas Reeves dan Nass menyatakan bahwa media dianggap layaknya manusia, dimana dia berinteraksi sebagaimana orang berinteraksi. Akan tetapi, memahami kejadian televisi tersebut tentunya logika ini tidak match. Televisi tidak berpikir layaknya manusia. Televisi juga tidak berbicara layaknya manusia. Televisi pun tidak mendengarkan dan memberikan feedback sebagaimana manusia ketika berinteraksi dalam hubungan interpersonal.
Kritik Kritik atas Media Equation Theory ini juga mengkritisi mengenai salah satu pernyataan mereka, bahwa bagaimana manusia memperlakukan media, sama seperti manusia memperlakukan manusia yang lain. Manusia sama dengan media. Namun, yang perlu menjadi catatan dalam hal ini, Reeves menuliskan bahwa media dalam teori ini meliputi semua media, baik itu media cetak, radio, televisi, bahkan internet. Treatment yang mereka lakukan untuk memberikan bukti terhadap penelitian ini diantaranya adalah dengan melihat respon orang ketika melihat televisi dan memperlakukan internet. Meskipun sama-sama media, televisi dan internet adalah dua hal yang berbeda. Televisi selama ini dimasukkan dalam kategori media massa, sedangkan internet masuk dalam kategori new media karena tidak bisa dimasukkan dalam ranah massa atau personal saja.
KESIMPULAN
 Dalam kajian ilmu komunikasi, bagaimana manusia berinteraksi dengan mediumnya, Media Equation Theory memang menghadirkan perspektif baru. Pertama, hubungan antara manusia dengan media massa dianggap sama sebagaimana hubungan antara manusia dengan manusia dalam hubungan interpersonal. Kedua, media dianggap mempunyai kognisi dengan penekanan, medium more that a tool, sehingga media dianggap bisa memberikan respon atas komunikasi yang terjadi antara media dengan manusia. Ketiga, teori ini menyamaratakan efek media pada manusia ketika manusia berhadapan dengan media, apapun bentuk medianya.
Kritik atas teori ini :
 Pertama, jika teori ini memang berbicara pada ranah efek media, Media Equation Theory telah melupakan aspek kognisi yang dimunculkan dalam teori yang berbicara mengenai efek media. Bagaimanapun ketika manusia berinteraksi dan berkomunikasi mereka dipengaruhi oleh dirinya sendiri yang mempunyai kemampuan kognitif, tujuan, dan motivasi, atau lingkungan sekitarnya yang membentuk sosial dan kulturalnya, atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam teori ini, justru manusia ditempatkan sebagai sesuatu yang pasif dengan menerima apapun yang diminta dan dilakukan oleh media.
Kedua, media massa sebagai produk dari teknologi komunikasi mempunyai dua kategori, sebagai bukti atas determinisme teknologi atau menjadi determinisme sosial dan budaya. Media massa memang menjadi variabel yang aktif dalam konteks perkembangan teknologi komunikasi. Media menjadi pesan yang harus dibaca, dlihat, dan dikritisi. Namun dalam Media Equation Theory media justru dipandang sebagai personal yang melakukan perubahan atas apa yang dilakukan oleh manusia. Pemikiran ini sangat berbeda dengan pemikiran McLuhan yang menyatakan bahwa media as a message. Dengan begitu teori ini menjadi semacam penegasan bahwa media mempunyai kognisi yang mampu menunjukkan perilaku tertentu. Padahal media sendiri sebenarnya tida mempunyai old brain sebagaimana manusia. Bagaimana media berpikir juga karena dibentuk dan diciptakan oleh manusia. 



Jumat, 23 Oktober 2015

KECELAKAAN



OUT OF CONTROL PERLU DITINGKTKAN


BENGKULU-Telah terjadi kecelakaan lalulintas di jalan raya UNIB Belakang, tepatnya di depan Rektorat Unib, Jumat (23/10).

 Korban yang berinisial IS yang juga memboncengi temannya EV. Saat dimintai keterangannya, IS mengaku dirina saat itu sedang tidak konsentrasi dan menjadi  hilang kendali saat mengendarai sepeda motor milik temannya tersebut.

 "ntah kenapa tadi tiba-tiba penglihaan saya menjadi gelap dan ngeblank, dan akhirnya masuk selokan".

Tidak ada koban jiwa dalam kecelakaan tersebut, namun kerugian di tafsir mencapai Rp.300.000  untuk administrasi pebaikan motor.

Berita Kekeringan

BENTENG DARURAT AIR BERSIH


BENTENG-Warga Dusun Talang Empat, Kecamatan karang tinggi, Bengkulu Tengah, Kamis (22/10) mengeluhkan sulitnya menperoleh sumber air bersih untuk kebutuhan untuk minum dan memasak  menuntut warga untuk  mencari sumber air bersih di pematang sawah.

Di lihat dari kondisi lahan yang sudah mulai mengering, tanaman pun mulai mati, sungai pun semakin mengering. Hal ini membuat warga tahun ini gagal panen.  Seperti inilah lahan pertanian di Benteng. 



Sudah hampir 8 bulan terakhir  hujan tidak kunjung turun  hanya turun dua kali dan itupun dengan intensitas rendah.

Menurut Zania (38),  air di sumur rumahnya sudah mengering  sejak musim kemarau datang. Sehingga dirinya terpaksa mencari air di pematang sawah atau berjalan sejauh beberapa kilometer ke rumah sanak family untuk meminta air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semenjak kekeringan terjadi, air sungai menjadi tidak layak di konsumsi karna sudah sedikit dan menjadi kotor. 

“ ya air sumur tidak ada lagi, paling cari-cari air di pematang sawah kalo tidak biasanya jalan ke tempat sanak untuk minta air bersih.”

Sejauh ini baik dari kepala desa ataupun pemerintah setempat belum ada inisiatif untuk memberikan bantuan air bersih, sehingga warga harus mengeluarkan tenaga lebih atau uang lebih untuk memperoleh kebutuhan air bersih untuk mempertahankan hidup di musim kemarau berakhir.